Takaran Rejeki Udah di Atur, Terus Gimana Dong???

Siapa nih yang masih mager menggunakan senjata "Rejeki itu udah ada yang ngatur. Ga usah muluk-muluk. Ga usah ngoyo. Porsinya sudah ditentukan."
Aku bilang: "prreettt..." 🤭🤭🤭
Sepertinya ada yang perlu kita benarin dulu tentang pandangan kita terhadap "takaran rejeki."
Aku coba kasih contoh deh.
Misal Budi itu lulusannya cuma SD. Setelah lulus SD, dia cuma jadi tukang cuci piring di restoran dan dia tidak mau mengembangkan potensi dan kualitas dirinya selama 25 tahun.
Dia ga mau menonjolkan potensi kejujurannya kepada atasan.
Dia tidak mau belajar administrasi / ilmu ke kasiran.
Dia tidak mau jika diposisikan sebagai pramusaji (karena tidak PD / malu). Dll
Maka, selama 25 tahun itu dia pasti sangat susah mengangkat takaran rejekinya. Ya kann...
Pada usia 26 tahun, budi mulai sadar tentang takaran rejeki. Lalu dia menaikkan kualitas dirinya.
Dia mulai belajar tentang kekasiran.
Mulai meningkatkan PD nya.
Dia bergaul dengan orang-orang yang memiliki kualitas diri lebih tinggi dari dia sehingga dia bisa mencontek caranya.
Mengikuti seminar.
Ini Saya, bukan Budi. Hehehe. Sedang belajar di seminar
Dia beli buku pengembangan diri. Beli buku bisnis dan buku-buku lain.
Modal nekat, dia memberanikan diri untuk memulai usaha / bisnis dari nol.
Atau, dia ikut bisnis NU Amoorea agar bisa berkumpul dengan lebih banyak orang dari berbagai kalangan sehingga bisa belajar pada banyak orang.
Jika sudah seperti itu, apakah takaran rejeki Si Budi akan tetap seperti takaran sebelumnya?
Apakah prosentase kemungkinan Budi menjadi horang kaya meningkat?
Oke dehh kalau masih tetap "ga usah ngoyo, rejeki udah ada takarannya", emang kita tahu takaran rejeki kita seberapa?
Emang kalau kita usaha lebih giat dan lebih baik lagi, Takaran kita tetap sama dan Allah tidak akan menaikkan takaran rejeki kita?
-------------------------------
Ya memang sih rejaki, jodoh dan mati sudah digaris oleh Allah. Tapi Allah itu ga pernah ngasih tahu berpa rejeki kita, siapa jodoh kita, kapan mati kita.
Maka dari itu, kita harus kerja / usaha semaksimal mungkin. Seperti yang sudah Nabi katakan:
Bekerjalah seolah kamu hidup selamanya. Dan beribadahlah seperti kamu akan mati esok hari.
Makannya berusahalah mencari jodoh yang sebaik mungkin. Bibit, bebet, bobot.
Maka dari itu jagalah kesehatan, hati-hati dalam beraktifitas (berusaha) agar panjang umur. Dan, Nabi berkata: Silaturrahimlah. Karena sebenarnya silaturrahim itu memperluas rejeki dan memperpanjang umur.
------------------------------
Nah, sekarang jelas sekali kan? Kita itu tidak boleh menggunakan "takaran rejeki sudah di atur. Sudah ada porsinya" sebagai alasan kita mager.
Teruslah berusaha dan tingkatkan kualitas diri. Jika kamu karyawan, raih prestasi lebih banyak dan dekati atasan agar bisa naik jabatan dan gaji naik.
Jika kamu pebisnis, pedagang / penjual, bersilaturrahimlah dengan banyak orang dan naikkan kualitas diri dengan belajar ilmu marketing lebih banyak lagi biar closing bertubi-tubi.
Tetap semangattttt.....!!!! Allah akan memberi rejeki seperti yang kita kita usahakan. Terakhir, tetap bersyukur dengan rezeki yang sudah kita terima. Dengan bersyukur, kita akan merasa berlimpah.
Silahkan share. Dengan 3x klik, kamu sudah berbagi kebaikan dengan banyak orang.
------------------------------
Maolana AkhsanKunjungi media sosial saya:Youtube: https://www.bit.ly/ytmaolana Website Pribadi: https://www.masmao.net FB: Maolana Go Ahead

Belum ada Komentar untuk "Takaran Rejeki Udah di Atur, Terus Gimana Dong???"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel